AKU BELUM BISA MENYEBUTMU LAGI


Ya, aku belum bisa menyebut namamu lagi

Dalam surat, buku harian dan percakapan sehari-hari

Kembali seakan sebuah janji diikrarkan

Apa lagi yang dapat kita ucapkan

 

 

Seperti dulu, namamu penuh belum bisa kusebut kini

Jauhkan daku dari kekhianatan, doaku setiap kali

Daun-daun asam mulai bermerahan dalam gugusan

Bara kemarau, lunglai dan teramat perlahan

 

Di atas hutan kelelawar senja berterbangan

Beratus sayap berombak-ombak ke selatan

Menyebar di atas baris-baris merah berangkat tenggelam 

Dan sekian ratus senja yang kucatat jadi malam

 

Kabut pun bagai ubun di atas hutan-hutan

Uap air tipis, merendah dari tepi-tepi

Tak sampai gerimis hanya awan berlayangan

Duh namamu penuh, yang belum bisa kusebut kini

 

Pada suatu hari namamu utuh akan kusebut lagi

Di titik senyap kekhianatan doaku setiap kali

Di atas baris-baris merah yanng berangkat tenggelam

Sekian ribu senja kucatat jadi malam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s